Narasi Tertulis Minggu Ketiga CM Bogor Bernarasi
- Salsabila Homeschool

- Jul 13, 2020
- 10 min read
Updated: Jul 16, 2020
Memasuki minggu ketiga (9 Juli 2020) kelas CM Bogor bernarasi, bagian yang dibacakan bersama yakni preface dari buku volume VI, Menuju Sebuah Filsafat Pendidikan, yang sudah diterjemahkan oleh mbak Ellen Kristi. Jujur saya belum sempat baca sekilas pun sebelum kelas dimulai, padahal materinya sudah diberikan di hari sebelumnya (tutup muka). Jadilah begitu kelas dimulai banyak hal yang menurut saya sulit untuk dipahami. Garis besar dari keseluruhan yang dibicarakan InsyaAllah bisa dimengerti, hanya merangkai jalan pikiran Charlotte Mason ketika memaparkan hal tersebut yang masih membingungkan.
Dua istilah yang diulang, dan saya tidak paham hingga kelas berakhir adalah:
Budi, terjemahan dari mind - diambil dari bahasa sansekerta buddhi, yang berarti kemampuan intelektual dan kekuatan untuk ‘membentuk dan mempertahankan konsep, alasan, membedakan, menilai, mengerti, memahami’. Untuk muslim lebih mudah untuk mengartikannya dengan Qolbu.
Fakultas, terjemahan dari faculty, tapi disini artinya tidak berhubungan dengan pembagian bidang ilmu dalam perguruan tinggi, melainkan adalah bagian-bagian yang ada didalam mind atau qolbu, yang terdiri atas: kemampuan beralasan, reasoning, kemampuan ingatan, memory, kemampuan orang memahami dengan panca inderanya, perception, kemampuan untuk menginginkan sesuatu, will, kemampuan memahami tanpa sebelumnya mempelajari, intuition, dan terakhir adalah kemampuan membayangkan sesuatu, imagination. Lebih lengkapnya bisa buka di http://james1.prosperityoflife.net/take-responsibility/6-higher-faculties-mind/
Setelah memahami dua kata diatas, marilah kita masuk untuk bernarasi tertulis untuk per paragraf dibagian pembukaan buku volume VI ini.
These are stressful times for those involved with education. WWI is over, and we rejoiced in the strength, bravery and devotion shown by our soldiers. We recognize that these things are due to our schools, and to the fact that England still breeds 'very valiant people.' It's nice to know that the whole army was remarkable. The natural heroism of our officers benefitted even more from the education that every boarding school boy gets, and from organized sports where they learn habits of obedience and leadership. But what about the pathetic ignorance we saw in the thinking of those many men who chose to stay home? Is it our fault? I guess most of us feel like it is. Those men were educated by the methods we thought were correct. I mean, they can read and write and think through an argument, although they're unable to detect a fallacy. Perplexed, we wonder, why do so many people seem to have no impulse to be generous, no logical patriotism, no ability to see beyond their own narrow concerns? It's because those things come only with the proper education. Those things distinguish a well-educated person. When millions of the men who should be the strong backbone of the country seem to feel no duty to serve their fellow man, we have to ask, 'Why weren't these people educated? What have we given them instead of an education?'
Situasi yang dipaparkan oleh Charlotte Mason adalah ketika perang dunia pertama berakhir di Inggris. Kemenangan Inggris merupakan buah dari tentara-tentara yang memiliki jiwa patriotisme, tunduk dan patuh. Sistem sekolah dan aktivitas olahraga menjadi salah satu faktor yang membentuk keadaan dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan tersebut. Tetapi disisi lain, para pendidik melihat dari sistem pendidikan yang berjalan tersebut, tidak sedikit pula, orang-orang yang mendapatkan pendidikan yang layak ini, tidak memiliki jiwa bela negara dan tidak mengajukan diri untuk maju berperang. Padahal mereka pun adalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan; dapat membaca, menulis, memberikan pendapatnya, tetapi tidak merasa bersalah untuk tetap tinggal dan tidak maju untuk berperang. Para pendidik saat itu merasa bingung akan hal tersebut, apa yang salah? mengapa ada banyak orang yang merasa tidak perlu untuk berkorban, tidak ada logika patriotisme, dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Kemungkinan hal itu terjadi karena sistem pendidikan saat itu tidak sampai dalam titik membuat orang paham dan mendalam tentang suatu hal. Dan itulah yang membedakan dengan orang yang terdidik dengan baik. Sehingga muncul pertanyaan, mengapa ada orang-orang yang seharusnya menjadi tulang punggung untuk membela negaranya tetapi tidak merasakan bahwa ia harus membantu negara dan sesama rekannya?
If we've erred in education, the problem has stemmed from our concept of what the mind is. The theory which has trickled down to teachers is the outdated notion that the mind is made up of different 'faculties' that have to be developed. This notion comes from the idea that thinking is nothing more than a function of the brain. And that notion is the only explanation for the scanty curriculum that most of our schools provide, and for the tortuous way teachers give lessons, and the disastrous idea that 'it doesn't matter what the child learns, all that matters is how he learns it.' We teach a lot, but the students learn very little. So we comfort ourselves with the belief that we're 'developing' one 'faculty' or another of his mind. The nation that understands that it is knowledge itself, and not developing faculties, that education should concern itself with, will have a great future. The mind needs the daily food of knowledge.
Masalah utama dalam konsep pendidikan saat itu berpusat kepada apakah pikiran atau akal budi itu? Para pendidik menganggap bahwa akal budi terdiri dari beberapa fakultas yang harus dikembangkan. Gagasan tersebut menumbuhkan ide bahwa akal budi hanyalah terbatas pada fungsi kerja otak, tidak lain. Hal itu pulalah yang membuat kurikulum yang dibuat hanya sedikit menyinggung soal akal budi, pelajaran yang diberikan oleh guru menjadi sulit untuk dicerna, dan memunculkan ide buruk bahwa “tidak peduli apa yang anak-anak pelajari’, tetapi yang paling penting adalah “bagaimana anak-anak itu belajar”. Anak-anak hanya mendapatkan sedikit dari hal yang mereka pelajari sementara para guru merasa telah memberikan semua untuk diajarkan. Kemudian dengan keadaan tersebut, para guru membuat nyaman dirinya dengan menegaskan bahwa mereka sedang mengembangkan satu atau fakultas lain di dalam akal budi tersebut. Negara yang mengerti tentang apa itu pengetahuan,dan bahwa pendidikan seharusnya bukanlah sarana untuk mengembangkan fakultas tersebut, tetapi pendidikanlah yang menjadi inti dari fakultas tersebut, maka ia akan menjadi negara yang hebat. Karena ia tahu bahwa akal budi membutuhkan ilmu pengetahuan sebagai sumber energinya.
Teachers are searching for a sound theory. Such a theory must be convinced that the mind plays an active role in education, and what conditions the mind needs to do this. We need an educational philosophy that realizes that only thoughts can appeal to the mind, and that thoughts give rise to more thoughts. All of the activities of the senses and muscles that supposedly train the mind as well as the body must be put in their proper places. This point is very important. Understanding that the mind feeds on thoughts and ideas, and isn't developed with physical exercises, isn't just something that needs to be understood as part of education, it's all of education. This relates to vocational training, too. Our newspapers scornfully ask, 'Is book-learning the only good education? Isn't the boy running a farm, or fixing computers, also getting an education?' The public lacks the courage to say with conviction, 'No, he isn't,' because the public doesn't have a clear understanding of what education is, and what makes education different from vocational training. But the people are beginning to understand. They are beginning to demand that their children receive the kind of education that prepares their children for life, not just to earn a living. As a matter of fact, the man who has read and thought about all kinds of subjects and also has the training he needs, will be the most capable, whether his skill is with handling tools, drawing plans, or accounting. The more of a well-rounded, whole person we succeed in making the child, the better able he'll be to fulfill his potential, live his life and serve society.
Para pendidik berusaha mencari teori menuju hal tersebut. Teori yang dapat meyakinkan bahwa akal budi berperan terhadap pendidikan, dan situasi yang mendukungnya. Filosofi pendidikan yang mendukung pemikiran-pemikiran menarik yang dapat menyinggung akal budi dan melahirkan kembali pemikiran-pemikiran yang baru. Hal yang perlu dipahami adalah ketika otot tubuh dibentuk dengan latihan fisik yang baik dan teratur, maka akal budi pun memerlukan latihan atau sumber energinya sendiri yakni ide-ide dan pemikiran, dan ia tidak dapat semata-mata dibentuk dengan latihan fisik, atau bagian dari pendidikan, karena pada dasarnya semua adalah pendidikan. Saat itu muncul pertanyaan di koran-koran, seperti ‘apakah dengan membaca buku artinya kita sudah mendapatkan pendidikan yang baik? Atau bertani, memperbaiki elektronik merupakan pendidikan?” seharusnya kita bisa menjawab bahwa hal tersebut bukanlah pendidikan seutuhnya. Karena pendidikan bukanlah semata-mata hanya untuk mendapatkan materi atau penghasilan, tetapi pendidikan seharusnya dapat mengajarkan bagaimana manusia hidup seutuhnya. Ketika seseorang mengerti arti penting tersebut walaupun ia telah membaca banyak buku, ia pun akan merasa bahwa ia tetap butuh latihan untuk menjadikannya benar-benar mumpuni. Ketika seseorang dapat mengembangkan kemampuan akal budi, ilmu serta praktiknya, maka ia dapat mengembangkan seluruh potensi dalam dirinya, hidup dengan baik sebagai dirinya sendiri dan dalam bermasyarakat.
There has been a lot of talk about what caused the break-down in character and conduct in Germany [in WWI]. The terror of war was just one symptom, and the symptoms have been traced to the kinds of thoughts that the people had been taught to think for three or four generations. We've heard a lot about Nietzsche, Treitschke, Bernhardi and the rest [this online article may help to summarize popular thought in pre-WWI Germany], but Professor John Henry Muirhead helped us to see that it goes even deeper. Darwin's theories of natural selection, the survival of the fittest and the struggle for existence, came at the moment Germany was ripe for such an idea. The ideas of a super race, the super state, the right for the strongest country to disregard treaties and destroy weaker countries, and to recognize no law except what serves its own interests--these come from Darwinism as surely as a chicken comes from an egg. The concept that 'might makes right' actually predates even Darwin--Frederick the Great wrote, 'Let those who have power take, and whoever is strong enough to keep power is entitled to it.' Perhaps Darwin, an Englishman, gave Germany a logical reason to do what it wanted to do anyway. Human nature tends to prefer natural laws over spiritual laws and to get its code of ethics from science rather than God. And that's why the Germans took Darwin's theories as justification to be brutal.
Bahasan selanjunya adalah mengenai bagaimana runtuhnya karakter di German, bukan hanya karena pengaruh teror dari peperangan tetapi karena adanya pemikiran turun temurun dari beberapa generasi dari para tokoh-tokoh German yang tersohor. Profesor John menjelaskan bagaimana German sangat menerima teori Darwin, seleksi alam, kelangsungan bertahan dan perjuangan hidup. Teori tersebut mematangkan pemikiran untuk menjadi negara yang paling hebat, ras yang paling kuat, tidak menganggap hukum melainkan yang hanya menguntungkan untuk diri sendiri dan penindasan terhadap negara lain yang lemah. Pemikiran Darwin tersebut mendukung pemikiran logis German, dimana manusia cenderung untuk lebih mudah untuk menerima hukum alam dibandingkan hukum spiritual, penerimaan terhadap ilmu pengetahuan lebih mudah dibandingkan penerimaan terhadap Tuhan. Hal ini lah yang menjadi pembenaran untuk mendukung kebrutalan German.
Here are a few examples of how German philosophers add to what Darwin said: 'All natural and spiritual powers dwell in physical matter. Matter is the foundation of everything that is.' 'What we call spirit, thought or knowing, is merely natural forces in peculiar combinations.' Darwin himself protests against the idea that, in man's higher nature, the struggle for existence is the most driving force. He never intended to make education purely materialistic any more than Locke intended his essays to bring about the French Revolution. But men's thoughts have more power than they think. Darwin and Locke both directly influenced world-changing ideas. Germany had had 25 years of materialistic thought, so they accepted Darwin's ideas. His theories freed them so that they no longer felt limited by morals. Darwin's follower, Ernst Haeckel, thought that the concept of natural selection made it acceptable for Germany's lawless action [since they were merely a country struggling to survive] and led to the notion of a superman. 'The principle of natural selection is very elite.' Buchner also simplified Darwin's theories and made them more popular. 'All the things the brain does that we think of as physical activities are only functions of the physical brain. Thought is to the brain what gall is to the liver.'
Pemikiran Darwin disimpulkan oleh seorang filosofer German bahwa, keadaan yang alami dan roh, spiritual, telah terangkum dalam materi fisik. Materi adalah segalanya, apa yang kita pikirkan dan ketahui mengenai spiritual tersebut merupakan sesuatu yang terjadi alami. Darwin sendiri menentang pendapat tersebut. Pemikiran yang diusungnya tidak semata-mata untuk mendoktrin bahwa pendidikan itu semata-mata adalah yang berkaitan dengan hal fisik atau materi, melainkan ia ingin menegaskan bahwa pemikiran manusia itu memiliki kekuatan yang lebih dari apa yang mereka pikirkan. Pemikiran Darwin dan Locke menjadi tumpuan kekuatan German dan revolusi Perancis. Tetapi untuk German sendiri, mereka dapat mudah menerima pemikiran Darwin karena memang dalam sejarahnya selama 25 tahun pemikiran mereka memang terkait dengan materialistik. Salah satu pengikut Darwin berpendapat, bahwa German dengan mudah menerima teori Darwin, karena kondisi mereka saat itu yang sedang berjuang untuk bangkit dan pada akhirnya menumbuhkan gagasan untuk menjadi negara atau ras yang paling hebat. Filsafat lain juga membuat simplifikasi terhadap teori Darwin dengan mengatakan bahwa segala sesuatu di dalam otak merupakan kegiatan fisik, ibaratnya pemikiran di dalam otak itu seperti empedu terhadap hati. Disini diartikan pemikiran itu bukanlah hal yang utama tetapi hanya pelengkap bagian fungsi otak.
However Germany has used Darwin's teaching, good or bad, wouldn't concern us (except for the war), except that Germany has influenced our educational thought with the fallacy that the brain has various faculties that need to be developed. English psychology hasn't come to any firm conclusions yet, but it has progressed far enough to deny the myth of brain faculties. The concept of 'mind' may be debated, but all psychological writers write about it [thus confirming its existence?] At least, that's what the Encyclopedia Britannica says under Psychology, and they are qualified to know. We have mind and we have matter. If, as we're told, psychology rests on feeling, then what about mind and physical matter? Is there something else?
Setelah diungkapkan bagaimana pemikiran German yang mengadopsi teori Darwin baik itu untuk hal yang positif (membuat mereka untuk berjuang keras), dan negatif (menjadi merasa dirinya yang paling hebat dan mengindahkan hukum untuk menindas negara yang lemah), satu hal yang perlu diperhatikan terutama dalam bidang pendidikan adalah pemikiran tersebut mengarahkan kepada kesalahan logika bahwa otak memiliki berbagai fakultas yang butuh untuk ditumbuhkembangkan. Para psikologi Inggris sendiri belum memberikan kesimpulan yang pasti terkait mitos tentang fakultas didalam otak. Konsep akal budi atau qolbu sendiri masih dalam perdebatan, tetapi setidaknya hal tersebut dipaparkan dalam Ensiklopedia Britania. Kita memiliki jasad materi dan juga spiritual, berupa akal budi atau qolbu. Ketika ilmu psikologi bersandar terhadap perasaan manusia, maka apakah yang menjadi landasan dari materi fisik dan akal budi?
Sekian narasi tertulis mengenai pembuka dari buku volume VI Charlotte Mason yang berjudul Menuju Sebuah Filosofi Pendidikan. Kali ini saya tidak membuat kesimpulan atau menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan, karena narasi yang saya tuliskan ini pun belum sepenuhnya saya pahami dengan baik. Mungkin dengan membaca lebih lanjut buku volume VI, bisa menjawab alur cerita yang ingin disampaikan oleh Charlotte Mason di halaman pembuka ini.
Emiria Chrysanti
Note: Charlotte Mason menganggap bahwa fakultas merupakan alat, berbeda dengan akal budi. sehingga disimpulkan bahwa fakultas merupakan materi (diskusi group CM Bogor 15 Juli 2020)



Comments